JISUMH.COMBaru-baru ini Dewan Film Korea telah mengumumkan program dukungan film korea beranggaran menengah. 

Program ini menyediakan pendanaan untuk film dengan produksi antara 2 miliar won (setara dengan 23 miliar rupiah) dan 10 miliar won (setara dengan 115 miliar rupiah).

Dirancang untuk film komersil dengan biaya yang kecil, program ini akan memilih sekitar 20 film untuk penerima programnya. 

Para pelaku industri mengatakan bahwa sebagian besar film komersial yang saat ini sedang dalam pengembangan di Korea, kemungkinan besar ikut mendaftar. 

Dengan kondisi industri film yang menghadapi krisis keuangan akibat resesi, seleksi untuk program ini adalah masalah hidup dan mati. 

Bahkan jika sebuah film terpilih, produksi tetaplah menantang. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemilihan pemain baru-baru ini. 

Kenaikan gaji aktor yang signifikan bukan lagi masalah utama, melainkan tanpa aktor bintang, sangat sulit untuk menarik investor. 

Tidak seperti drama, film dapat dengan jelas diidentifikasi dari kinerja box office-nya. Dengan semakin sedikit penonton bioskop, maka impian film blockbuster akan semakin menantang. 

Hal ini berdampak pada semakin sedikit aktor yang bersedia mengambil resiko dan membintangi film yang ditawarkan.

Berbeda dengan drama, dimana drama dapat menghasilkan bayaran yang lebih tinggi dan tidak ada indikator keberhasilan yang jelas seperti rating penonton. 

Singkatnya, industri film Korea saat ini sedang mengalami resesi yang kompleks, dan memperluas subsidi saja tidak akan cukup untuk menghidupkan kembali industri ini. 

Permasalahan lain adalah industri impor film juga menghadapi kesulitan, investor dari penyedia hak tambahan seperti IPTV, telah menurun secara signifikan. 

JISUMH.COMBaru-baru ini Dewan Film Korea telah mengumumkan program dukungan film korea beranggaran menengah. 

Program ini menyediakan pendanaan untuk film dengan produksi antara 2 miliar won (setara dengan 23 miliar rupiah) dan 10 miliar won (setara dengan 115 miliar rupiah).

Dirancang untuk film komersil dengan biaya yang kecil, program ini akan memilih sekitar 20 film untuk penerima programnya. 

Para pelaku industri mengatakan bahwa sebagian besar film komersial yang saat ini sedang dalam pengembangan di Korea, kemungkinan besar ikut mendaftar. 

Dengan kondisi industri film yang menghadapi krisis keuangan akibat resesi, seleksi untuk program ini adalah masalah hidup dan mati. 

Bahkan jika sebuah film terpilih, produksi tetaplah menantang. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemilihan pemain baru-baru ini. 

Kenaikan gaji aktor yang signifikan bukan lagi masalah utama, melainkan tanpa aktor bintang, sangat sulit untuk menarik investor. 

Tidak seperti drama, film dapat dengan jelas diidentifikasi dari kinerja box office-nya. Dengan semakin sedikit penonton bioskop, maka impian film blockbuster akan semakin menantang. 

Hal ini berdampak pada semakin sedikit aktor yang bersedia mengambil resiko dan membintangi film yang ditawarkan.

Berbeda dengan drama, dimana drama dapat menghasilkan bayaran yang lebih tinggi dan tidak ada indikator keberhasilan yang jelas seperti rating penonton. 

Singkatnya, industri film Korea saat ini sedang mengalami resesi yang kompleks, dan memperluas subsidi saja tidak akan cukup untuk menghidupkan kembali industri ini. 

Permasalahan lain adalah industri impor film juga menghadapi kesulitan, investor dari penyedia hak tambahan seperti IPTV, telah menurun secara signifikan. 

Para penyedia hak siar ini sekarang mengamankan hak atas film impor dengan membayar di muka, tidak mau berbagi resiko melalui investasi seperti yang dilakukan sebelumnya. 

Fenomena ini berasal dari penurunan ekonomi yang parah di industri teater, sebagai dampak dari kehadiran penonton yang semakin menurun. 

Industri film terjebak dalam resesi tanpa akhir yang terlihat, industri film global berada pada titik balik restrukturisasi. 

Jika layanan streaming online (OTT) Netflix menyelesaikan akuisisi studio Hollywood Warner Bros, hal itu diperkirakan akan membawa transformasi besar dalam model bisnis per-film-an.

Bioskop yang dulunya menjadi sumber pendapatan utama, akan menghadapi penurunan jika Netflix terus mendominasi di pasar domestik, dan berakibat pasar film korea akan semakin menyusut. 

Apakah pemerintah memiliki rencana jangka panjang untuk mengembalikan industri film? ataukah sedang mempertimbangkan langkah-langkah khusus?

Para penyedia hak siar ini sekarang mengamankan hak atas film impor dengan membayar di muka, tidak mau berbagi resiko melalui investasi seperti yang dilakukan sebelumnya. 

Fenomena ini berasal dari penurunan ekonomi yang parah di industri teater, sebagai dampak dari kehadiran penonton yang semakin menurun. 

Industri film terjebak dalam resesi tanpa akhir yang terlihat, industri film global berada pada titik balik restrukturisasi. 

Jika layanan streaming online (OTT) Netflix menyelesaikan akuisisi studio Hollywood Warner Bros, hal itu diperkirakan akan membawa transformasi besar dalam model bisnis per-film-an.

Bioskop yang dulunya menjadi sumber pendapatan utama, akan menghadapi penurunan jika Netflix terus mendominasi di pasar domestik, dan berakibat pasar film korea akan semakin menyusut. 

Apakah pemerintah memiliki rencana jangka panjang untuk mengembalikan industri film? ataukah sedang mempertimbangkan langkah-langkah khusus?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *