JISUMH.COM – Satu potongan video singkat kembali membuktikan bahwa menjadi idol global berarti siap terseret ke pusaran isu sensitif yang bisa meledak kapan saja, dan kali ini sorotan tajam mengarah pada Wonyoung dari IVE yang mendadak jadi bahan perbincangan panas.
Nama Wonyoung kembali ramai dibicarakan, kali ini bukan karena visual panggung atau fashion ikoniknya, melainkan karena isu sensitif yang mencuat di pasar Tiongkok.
Sebuah potongan video backstage menyeret center IVE ini ke kontroversi politik yang langsung memecah opini publik.
Kontroversi bermula dari rekaman di balik layar ajang MAMA 2025 yang digelar di Hong Kong. Dalam video tersebut, idol kelahiran 2004 ini diduga menyebut Hong Kong sebagai salah satu “negara” favoritnya, yang kemudian dianggap bermasalah oleh sebagian netizen Tiongkok.
Isu tersebut dengan cepat menyebar luas di berbagai media hiburan Tiongkok dan platform media sosial lokal. Banyak netizen menilai ucapan sang center generasi keempat itu tidak pantas karena bertentangan dengan sikap resmi China mengenai status Hong Kong.
Sebagian komentar bahkan menyebut pernyataan itu sebagai tindakan provokatif dan tidak sensitif secara politik. Dari titik ini, seruan boikot mulai bermunculan dan perlahan menyasar aktivitas serta citra member IVE tersebut di wilayah Tiongkok.
Namun di tengah gelombang kritik, Wonyoung juga mendapat pembelaan dari penggemar. Banyak yang menilai kata bahasa Korea yang digunakan memiliki makna luas dan tidak selalu merujuk pada konsep “negara” dalam konteks politik.
Perdebatan semakin panas ketika netizen lain menegaskan bahwa kata “nara” secara umum memang berarti negara dalam bahasa Korea. Perbedaan tafsir inilah yang membuat diskusi berkembang liar dan sulit menemukan titik temu di ruang publik.
Situasi makin rumit setelah sebagian pengguna menyadari bahwa subtitle Mandarin dalam video tersebut tidak menerjemahkan kata itu sebagai “negara”. Terjemahan “salah satu tempat yang aku sukai” justru memicu kecurigaan bahwa agensi visual IVE ini sudah menyadari sensitivitasnya sejak awal.
Hal tersebut membuat publik mempertanyakan keputusan tetap merilis video itu ke publik. Ada yang menilai ini sebagai kelalaian manajemen, sementara lainnya menuding agensi bermain aman tanpa sepenuhnya transparan.
Api kontroversi kembali membesar ketika muncul klaim bahwa unggahan berisi kritik atau seruan boikot mulai menghilang dari platform. Tuduhan pun mengarah pada pihak agensi yang disebut berusaha meredam reaksi negatif terhadap idol favorit para DIVE, sebutan bagi para penggemar IVE.
JISUMH.COM – Satu potongan video singkat kembali membuktikan bahwa menjadi idol global berarti siap terseret ke pusaran isu sensitif yang bisa meledak kapan saja, dan kali ini sorotan tajam mengarah pada Wonyoung dari IVE yang mendadak jadi bahan perbincangan panas.
Nama Wonyoung kembali ramai dibicarakan, kali ini bukan karena visual panggung atau fashion ikoniknya, melainkan karena isu sensitif yang mencuat di pasar Tiongkok.
Sebuah potongan video backstage menyeret center IVE ini ke kontroversi politik yang langsung memecah opini publik.
Kontroversi bermula dari rekaman di balik layar ajang MAMA 2025 yang digelar di Hong Kong. Dalam video tersebut, idol kelahiran 2004 ini diduga menyebut Hong Kong sebagai salah satu “negara” favoritnya, yang kemudian dianggap bermasalah oleh sebagian netizen Tiongkok.
Isu tersebut dengan cepat menyebar luas di berbagai media hiburan Tiongkok dan platform media sosial lokal. Banyak netizen menilai ucapan sang center generasi keempat itu tidak pantas karena bertentangan dengan sikap resmi China mengenai status Hong Kong.
Sebagian komentar bahkan menyebut pernyataan itu sebagai tindakan provokatif dan tidak sensitif secara politik. Dari titik ini, seruan boikot mulai bermunculan dan perlahan menyasar aktivitas serta citra member IVE tersebut di wilayah Tiongkok.
Namun di tengah gelombang kritik, Wonyoung juga mendapat pembelaan dari penggemar. Banyak yang menilai kata bahasa Korea yang digunakan memiliki makna luas dan tidak selalu merujuk pada konsep “negara” dalam konteks politik.
Perdebatan semakin panas ketika netizen lain menegaskan bahwa kata “nara” secara umum memang berarti negara dalam bahasa Korea. Perbedaan tafsir inilah yang membuat diskusi berkembang liar dan sulit menemukan titik temu di ruang publik.
Situasi makin rumit setelah sebagian pengguna menyadari bahwa subtitle Mandarin dalam video tersebut tidak menerjemahkan kata itu sebagai “negara”. Terjemahan “salah satu tempat yang aku sukai” justru memicu kecurigaan bahwa agensi visual IVE ini sudah menyadari sensitivitasnya sejak awal.
Hal tersebut membuat publik mempertanyakan keputusan tetap merilis video itu ke publik. Ada yang menilai ini sebagai kelalaian manajemen, sementara lainnya menuding agensi bermain aman tanpa sepenuhnya transparan.
Api kontroversi kembali membesar ketika muncul klaim bahwa unggahan berisi kritik atau seruan boikot mulai menghilang dari platform. Tuduhan pun mengarah pada pihak agensi yang disebut berusaha meredam reaksi negatif terhadap idol favorit para DIVE, sebutan bagi para penggemar IVE.
Di sisi lain, fans internasional justru melihat situasi ini sebagai reaksi yang berlebihan. Mereka menilai idol K-Pop sering kali terjebak dalam isu geopolitik yang sebenarnya berada di luar niat dan kendali pribadi mereka.
Yang membuat situasi terasa kontras adalah fakta bahwa sebelumnya Wonyoung sempat menuai respons positif dari publik Tiongkok. Saat rangkaian MAMA di Hong Kong, ia dipuji berkat gestur empati terhadap insiden kebakaran lokal.
Perubahan sentimen yang begitu cepat ini membuat banyak penggemar terkejut. Dalam hitungan hari, citra yang sebelumnya hangat berubah menjadi sasaran kritik tajam di berbagai platform.
Kasus ini kembali membuka diskusi lama tentang betapa rumitnya pasar Tiongkok bagi industri K-Pop. Kesalahan kecil dalam pemilihan kata saja bisa berdampak besar pada reputasi seorang bintang muda Starship Entertainment ini.
Bagi perusahaan hiburan Korea Selatan, situasi ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya sensitivitas budaya dan politik. Pasar besar memang menjanjikan, tetapi risikonya juga tidak bisa dianggap sepele.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi baik dari pihak Wonyoung maupun agensinya. Sikap diam ini justru membuat spekulasi terus berkembang di kalangan netizen dan komunitas penggemar.
Sebagian fans berharap klarifikasi bisa segera disampaikan untuk meredam kesalahpahaman. Namun ada pula yang menilai respons apa pun justru berpotensi memperbesar sorotan negatif.
Pada akhirnya, kontroversi ini kembali menegaskan bahwa di era K-Pop global, satu kata yang terucap di belakang panggung pun bisa berubah menjadi badai besar yang mengguncang perjalanan karier seorang idol.
Di sisi lain, fans internasional justru melihat situasi ini sebagai reaksi yang berlebihan. Mereka menilai idol K-Pop sering kali terjebak dalam isu geopolitik yang sebenarnya berada di luar niat dan kendali pribadi mereka.
Yang membuat situasi terasa kontras adalah fakta bahwa sebelumnya Wonyoung sempat menuai respons positif dari publik Tiongkok. Saat rangkaian MAMA di Hong Kong, ia dipuji berkat gestur empati terhadap insiden kebakaran lokal.
Perubahan sentimen yang begitu cepat ini membuat banyak penggemar terkejut. Dalam hitungan hari, citra yang sebelumnya hangat berubah menjadi sasaran kritik tajam di berbagai platform.
Kasus ini kembali membuka diskusi lama tentang betapa rumitnya pasar Tiongkok bagi industri K-Pop. Kesalahan kecil dalam pemilihan kata saja bisa berdampak besar pada reputasi seorang bintang muda Starship Entertainment ini.
Bagi perusahaan hiburan Korea Selatan, situasi ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya sensitivitas budaya dan politik. Pasar besar memang menjanjikan, tetapi risikonya juga tidak bisa dianggap sepele.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi baik dari pihak Wonyoung maupun agensinya. Sikap diam ini justru membuat spekulasi terus berkembang di kalangan netizen dan komunitas penggemar.
Sebagian fans berharap klarifikasi bisa segera disampaikan untuk meredam kesalahpahaman. Namun ada pula yang menilai respons apa pun justru berpotensi memperbesar sorotan negatif.
Pada akhirnya, kontroversi ini kembali menegaskan bahwa di era K-Pop global, satu kata yang terucap di belakang panggung pun bisa berubah menjadi badai besar yang mengguncang perjalanan karier seorang idol.

Leave a Reply