JISUMH.COM – Di tengah antusiasme global terhadap masa depan BTS, satu isu lama kembali muncul dan langsung memicu perdebatan panas di kalangan penggemar K-Pop lintas platform.
Tuduhan terhadap HYBE soal penggunaan dana yang disebut-sebut berasal dari kerja keras BTS kini kembali menyeret nama perusahaan ke pusaran kontroversi besar.
HYBE kembali disorot setelah tudingan bahwa perusahaan tersebut menggunakan dana dalam jumlah fantastis untuk menutup utang lama Scooter Braun.
Isu ini langsung menyita perhatian karena dikaitkan dengan akuisisi Ithaca Holdings yang dilakukan beberapa tahun lalu.
Akuisisi Ithaca Holdings oleh HYBE pada 2021 memang sempat dipuji sebagai langkah ambisius untuk menembus pasar musik Amerika.
Saat itu, publik melihatnya sebagai upaya serius memperluas pengaruh K-Pop ke ranah global dengan menggandeng nama-nama besar Barat.
Namun seiring waktu, detail finansial dari kesepakatan tersebut mulai terkuak dan menimbulkan tanda tanya. Total biaya akuisisi yang mencapai sekitar 1,2 triliun Won (setara dengan 13,9 triliun Rupiah) ternyata mencakup pengambilalihan utang lama milik perusahaan Scooter Braun.
Utang yang dipermasalahkan ini disebut-sebut berkaitan dengan pembelian master rekaman Taylor Swift pada 2019.
Langkah kontroversial itu memang sempat menghebohkan industri musik global dan meninggalkan jejak konflik panjang.
Masalahnya, setelah master tersebut dijual kembali dengan keuntungan besar, sisa utang justru masih tercatat di pembukuan perusahaan.
Ketika HYBE mengambil alih Ithaca, beban finansial itu otomatis ikut terseret masuk ke dalam kesepakatan.
JISUMH.COM – Di tengah antusiasme global terhadap masa depan BTS, satu isu lama kembali muncul dan langsung memicu perdebatan panas di kalangan penggemar K-Pop lintas platform.
Tuduhan terhadap HYBE soal penggunaan dana yang disebut-sebut berasal dari kerja keras BTS kini kembali menyeret nama perusahaan ke pusaran kontroversi besar.
HYBE kembali disorot setelah tudingan bahwa perusahaan tersebut menggunakan dana dalam jumlah fantastis untuk menutup utang lama Scooter Braun.
Isu ini langsung menyita perhatian karena dikaitkan dengan akuisisi Ithaca Holdings yang dilakukan beberapa tahun lalu.
Akuisisi Ithaca Holdings oleh HYBE pada 2021 memang sempat dipuji sebagai langkah ambisius untuk menembus pasar musik Amerika.
Saat itu, publik melihatnya sebagai upaya serius memperluas pengaruh K-Pop ke ranah global dengan menggandeng nama-nama besar Barat.
Namun seiring waktu, detail finansial dari kesepakatan tersebut mulai terkuak dan menimbulkan tanda tanya. Total biaya akuisisi yang mencapai sekitar 1,2 triliun Won (setara dengan 13,9 triliun Rupiah) ternyata mencakup pengambilalihan utang lama milik perusahaan Scooter Braun.
Utang yang dipermasalahkan ini disebut-sebut berkaitan dengan pembelian master rekaman Taylor Swift pada 2019.
Langkah kontroversial itu memang sempat menghebohkan industri musik global dan meninggalkan jejak konflik panjang.
Masalahnya, setelah master tersebut dijual kembali dengan keuntungan besar, sisa utang justru masih tercatat di pembukuan perusahaan.
Ketika HYBE mengambil alih Ithaca, beban finansial itu otomatis ikut terseret masuk ke dalam kesepakatan.
Untuk mendanai akuisisi besar tersebut, HYBE dilaporkan menguras sebagian besar cadangan kasnya dan menambah pinjaman dalam jumlah masif.
Pada periode yang sama, BTS menjadi sumber pendapatan utama lewat tur dunia, album, dan merchandise yang laris di seluruh dunia.
Fakta inilah yang membuat sebagian penggemar merasa tidak nyaman dan mulai mempertanyakan ke mana aliran uang tersebut digunakan.
Bagi banyak ARMY, sebutan bagi para penggemar BTS, kontribusi grup tidak seharusnya dibayangi oleh keputusan bisnis yang dianggap berisiko.
Isu ini kembali meledak pada awal 2026 setelah sebuah unggahan viral di media sosial mengangkat laporan investigatif dari media independen.
Diskusi pun meluas, dengan netizen membedah ulang setiap detail akuisisi yang dulu sempat dianggap sukses.
Beberapa komentar bernada keras mulai bermunculan dan menyasar manajemen HYBE secara langsung. Ada yang mempertanyakan transparansi perusahaan, sementara lainnya menuding adanya pengelolaan dana yang tidak berpihak pada artis.
Di sisi lain, tidak sedikit pula penggemar yang mencoba bersikap lebih tenang dan melihat ini sebagai bagian dari dinamika bisnis global.
Mereka menilai ekspansi ke pasar Barat memang membutuhkan biaya besar dan risiko yang tidak kecil.
HYBE sendiri hingga kini belum memberikan pernyataan baru terkait tuduhan tersebut. Sikap diam ini justru membuat spekulasi terus berkembang dan memicu berbagai asumsi di kalangan publik.
Sebelumnya, perusahaan kerap menegaskan bahwa akuisisi Ithaca dilakukan demi sinergi jangka panjang antara K-Pop dan industri musik Barat.
Namun realitas di lapangan, termasuk hengkangnya beberapa artis besar dan mundurnya Scooter Braun dari posisi eksekutif, membuat narasi itu kembali dipertanyakan.
Kontroversi ini terasa semakin sensitif karena muncul di saat banyak penggemar menantikan kembalinya BTS sebagai grup lengkap.
Harapan besar terhadap era baru grup ini seolah berbenturan dengan bayang-bayang keputusan bisnis masa lalu.
Bagi HYBE, tekanan publik kali ini bukan sekadar soal angka dan laporan keuangan. Ini juga menyangkut kepercayaan penggemar yang selama ini menjadi fondasi kuat kesuksesan perusahaan.
Ke depan, transparansi dan komunikasi yang lebih terbuka mungkin menjadi kunci untuk meredam kekecewaan yang ada.
Hingga saat itu tiba, satu hal jelas bahwa sorotan terhadap penggunaan uang BTS akan terus menjadi topik sensitif yang sulit dihindari.
Untuk mendanai akuisisi besar tersebut, HYBE dilaporkan menguras sebagian besar cadangan kasnya dan menambah pinjaman dalam jumlah masif.
Pada periode yang sama, BTS menjadi sumber pendapatan utama lewat tur dunia, album, dan merchandise yang laris di seluruh dunia.
Fakta inilah yang membuat sebagian penggemar merasa tidak nyaman dan mulai mempertanyakan ke mana aliran uang tersebut digunakan.
Bagi banyak ARMY, sebutan bagi para penggemar BTS, kontribusi grup tidak seharusnya dibayangi oleh keputusan bisnis yang dianggap berisiko.
Isu ini kembali meledak pada awal 2026 setelah sebuah unggahan viral di media sosial mengangkat laporan investigatif dari media independen.
Diskusi pun meluas, dengan netizen membedah ulang setiap detail akuisisi yang dulu sempat dianggap sukses.
Beberapa komentar bernada keras mulai bermunculan dan menyasar manajemen HYBE secara langsung. Ada yang mempertanyakan transparansi perusahaan, sementara lainnya menuding adanya pengelolaan dana yang tidak berpihak pada artis.
Di sisi lain, tidak sedikit pula penggemar yang mencoba bersikap lebih tenang dan melihat ini sebagai bagian dari dinamika bisnis global.
Mereka menilai ekspansi ke pasar Barat memang membutuhkan biaya besar dan risiko yang tidak kecil.
HYBE sendiri hingga kini belum memberikan pernyataan baru terkait tuduhan tersebut. Sikap diam ini justru membuat spekulasi terus berkembang dan memicu berbagai asumsi di kalangan publik.
Sebelumnya, perusahaan kerap menegaskan bahwa akuisisi Ithaca dilakukan demi sinergi jangka panjang antara K-Pop dan industri musik Barat.
Namun realitas di lapangan, termasuk hengkangnya beberapa artis besar dan mundurnya Scooter Braun dari posisi eksekutif, membuat narasi itu kembali dipertanyakan.
Kontroversi ini terasa semakin sensitif karena muncul di saat banyak penggemar menantikan kembalinya BTS sebagai grup lengkap.

Leave a Reply