JISUMH.COM  Satu panggung spesial yang seharusnya jadi ajang perayaan musik justru berubah menjadi pemicu perdebatan panas di kalangan penggemar K-Pop, dengan SM Entertainment kembali berada di pusat badai kritik.

Kontroversi ini bermula ketika publik mengetahui bahwa Ian dari Hearts2Hearts membawakan lagu solo Karina aespa berjudul “UP” di panggung spesial MBC Gayo Daejeon 2025.

Awalnya banyak yang menganggap ini sekadar cover biasa, namun reaksi penggemar dengan cepat berubah menjadi kekecewaan yang sulit dibendung.

Para MY, sebutan bagi para penggemar grup aespa, langsung mempertanyakan keputusan tersebut karena sang pemilik lagu justru tidak pernah mendapat panggung promosi yang setara.

Lagu “UP” dikenal luas di kalangan fans, tetapi nyatanya minim eksposur resmi dari agensi sendiri.

Selama ini, lagu tersebut hanya dibawakan di konser aespa dan satu kali di acara WATERBOMB Seoul. Tidak ada penampilan di music show, tidak ada promosi solo, bahkan dance practice resmi pun tak pernah dirilis oleh SM.

Situasi makin memanas ketika Hearts2Hearts mengunggah video dance practice penuh dari cover “UP” versi Ian.

Bagi banyak fans, ini terasa seperti tamparan karena konten yang diharapkan dari Karina justru diberikan kepada member grup rookie.

Baca Juga: Hearts2Hearts

Selama ini, lagu tersebut hanya dibawakan di konser aespa dan satu kali di acara WATERBOMB Seoul. Tidak ada penampilan di music show, tidak ada promosi solo, bahkan dance practice resmi pun tak pernah dirilis oleh SM.

Situasi makin memanas ketika Hearts2Hearts mengunggah video dance practice penuh dari cover “UP” versi Ian.

Bagi banyak fans, ini terasa seperti tamparan karena konten yang diharapkan dari Karina justru diberikan kepada member grup rookie.

Di sisi lain, sebagian fans mencoba menahan emosi dan meminta agar Ian tidak diseret terlalu jauh. Mereka menekankan bahwa keputusan promosi sepenuhnya berada di tangan perusahaan, bukan sang idol rookie.

Sayangnya, gelombang kritik yang besar tetap berdampak pada Ian secara personal. Ia menerima hujatan berlebihan, padahal banyak yang sepakat bahwa ia hanya menjalankan jadwal yang diberikan agensi.

Situasi ini kembali membuka luka lama terkait cara SM mengelola promosi individual member aespa. Bagi fans, ini bukan sekadar soal satu lagu, melainkan akumulasi rasa frustrasi yang terus dipendam.

Beberapa MY menyebut bahwa jika lagu “UP” sejak awal dipromosikan dengan layak, reaksi publik mungkin akan sangat berbeda. Mereka merasa potensi besar sang leader aespa justru terhambat oleh keputusan internal agensi.

Hingga kini, SM Entertainment masih memilih diam dan belum memberikan klarifikasi resmi. Sikap ini justru membuat spekulasi makin liar dan kekecewaan fans semakin dalam.

Di tengah panasnya situasi, banyak penggemar berharap agensi segera melakukan evaluasi serius. Mereka ingin aespa mendapat perlakuan adil, terutama dalam promosi solo yang seharusnya menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras member.

Kontroversi ini juga menjadi pengingat bahwa fandom K-Pop kini semakin kritis dan vokal. Keputusan yang dianggap tidak adil akan dengan cepat disorot dan dibahas secara masif.

Jika SM ingin meredam amarah fans, transparansi dan langkah konkret jelas sangat dibutuhkan. Tanpa itu, isu serupa kemungkinan akan terus terulang dan mencoreng citra agensi sendiri.

Pada akhirnya, kasus ini kembali menegaskan bahwa satu keputusan promosi bisa berdampak panjang, dan para penggemar tak akan tinggal diam ketika idol kesayangan mereka merasa diperlakukan tidak semestinya.

Komentar semacam ini dengan cepat menyebar dan memicu diskusi panjang di komunitas K-Pop.

Di sisi lain, sebagian fans mencoba menahan emosi dan meminta agar Ian tidak diseret terlalu jauh. Mereka menekankan bahwa keputusan promosi sepenuhnya berada di tangan perusahaan, bukan sang idol rookie.

Sayangnya, gelombang kritik yang besar tetap berdampak pada Ian secara personal. Ia menerima hujatan berlebihan, padahal banyak yang sepakat bahwa ia hanya menjalankan jadwal yang diberikan agensi.

Situasi ini kembali membuka luka lama terkait cara SM mengelola promosi individual member aespa. Bagi fans, ini bukan sekadar soal satu lagu, melainkan akumulasi rasa frustrasi yang terus dipendam.

Beberapa MY menyebut bahwa jika lagu “UP” sejak awal dipromosikan dengan layak, reaksi publik mungkin akan sangat berbeda. Mereka merasa potensi besar sang leader aespa justru terhambat oleh keputusan internal agensi.

Hingga kini, SM Entertainment masih memilih diam dan belum memberikan klarifikasi resmi. Sikap ini justru membuat spekulasi makin liar dan kekecewaan fans semakin dalam.

Di tengah panasnya situasi, banyak penggemar berharap agensi segera melakukan evaluasi serius. Mereka ingin aespa mendapat perlakuan adil, terutama dalam promosi solo yang seharusnya menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras member.

Kontroversi ini juga menjadi pengingat bahwa fandom K-Pop kini semakin kritis dan vokal. Keputusan yang dianggap tidak adil akan dengan cepat disorot dan dibahas secara masif.

Jika SM ingin meredam amarah fans, transparansi dan langkah konkret jelas sangat dibutuhkan. Tanpa itu, isu serupa kemungkinan akan terus terulang dan mencoreng citra agensi sendiri.

Pada akhirnya, kasus ini kembali menegaskan bahwa satu keputusan promosi bisa berdampak panjang, dan para penggemar tak akan tinggal diam ketika idol kesayangan mereka merasa diperlakukan tidak semestinya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *